News

Ratusan Tunanetra Rayakan Hari Braille Sedunia di McDonald’s Tasikmalaya

16
×

Ratusan Tunanetra Rayakan Hari Braille Sedunia di McDonald’s Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Suasana tak biasa tampak sejak pagi di sebuah restoran cepat saji di kawasan Jalan Ir. H. Djuanda, Kota Tasikmalaya, Kamis (29/1/2026).

Area yang selama ini identik dengan hiruk-pikuk pengunjung kuliner, hari itu berubah menjadi ruang literasi, refleksi, dan perayaan makna huruf Braille.

Ratusan penyandang disabilitas netra atau tunanetra, bersama para pendampingnya, memadati McDonald’s Djuanda Tasikmalaya untuk memperingati Hari Braille Sedunia. Mereka hadir bukan untuk menikmati menu cepat saji, melainkan membaca, menulis, dan merayakan huruf Braille—bahasa kehidupan bagi tunanetra.

Puluhan pendamping awas tampak sabar menuntun satu per satu peserta menaiki tangga menuju lantai dua restoran. Langkah-langkah kecil yang penuh kehati-hatian itu menghadirkan pemandangan menyentuh. Di balik kesunyian gerak tersebut, tersimpan pesan kuat tentang inklusivitas, kesetaraan, dan hak atas ruang publik bagi semua kalangan.

Setibanya di lantai dua, suasana terasa semakin berbeda. Deretan meja yang biasanya dipenuhi burger dan kentang goreng, hari itu dipenuhi kertas Braille, reglet, stylus, dan buku-buku khusus tunanetra. Ratusan tangan meraba titik-titik timbul, menyusun huruf demi huruf, menuliskan cerita, pengalaman hidup, serta harapan masa depan mereka.

Sebanyak 104 siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) penyandang disabilitas netra dari Kota Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis mengikuti kegiatan membaca dan menulis Braille tersebut. Kegiatan ini diinisiasi oleh Paguyuban Pegiat Disabilitas Tasikmalaya (Papeditas) sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya literasi Braille bagi penyandang tunanetra.

Dengan penuh konsentrasi, para siswa menulis cerita pendek tentang kota tempat mereka tinggal—Tasikmalaya dan Ciamis—tentang mimpi, cita-cita, serta harapan hidup di tengah keterbatasan penglihatan.

“Braille adalah mata kami. Lewat Braille, mereka bisa membaca dunia,” ujar salah seorang pendamping dengan suara bergetar.

Kalimat sederhana itu seolah merangkum semangat Hari Braille Sedunia. Bagi tunanetra, Braille bukan sekadar sistem tulisan, melainkan jendela pengetahuan, alat kemandirian, dan simbol martabat manusia.

Ketua Papeditas H. Tata Tajudin, didampingi Sekretaris Aris Rahman, M.Pd, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan.

“Braille adalah jembatan pengetahuan bagi teman-teman tunanetra. Tanpa Braille, akses mereka terhadap pendidikan dan informasi akan sangat terbatas,” kata Tata.

Ia menjelaskan, pemilihan lokasi di ruang publik seperti restoran cepat saji dilakukan secara sadar dan terencana.

“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk hadir, berkegiatan, dan berekspresi di ruang publik,” ujarnya.

Sementara itu, Aris Rahman menyampaikan apresiasi kepada pihak pengelola restoran. “Terima kasih kepada McDonald’s Djuanda yang selama ini selalu memfasilitasi kegiatan kami,” ucapnya.

Kegiatan ini juga dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd. Diky Candra, yang tampak membaur langsung bersama para penyandang disabilitas netra. Sejumlah pengunjung lain terlihat berhenti sejenak, menyaksikan aktivitas membaca dan menulis Braille yang berlangsung khidmat.

Pihak pengelola McDonald’s Djuanda Tasikmalaya menyambut baik kegiatan tersebut dan memberikan dukungan penuh. Menurut mereka, kolaborasi dengan komunitas disabilitas merupakan langkah kecil namun bermakna dalam membangun kesadaran inklusivitas di tengah masyarakat.

Guru SLBN Bungursari, Nabila, yang turut mendampingi siswa, menegaskan bahwa Braille memiliki makna jauh lebih dalam dari sekadar media baca tulis.

“Braille bukan hanya titik-titik timbul, tetapi simbol perjuangan, kemandirian, dan martabat penyandang tunanetra,” ujarnya.

Peringatan Hari Braille Sedunia di Kota Tasikmalaya ini menjadi pengingat bahwa pembangunan inklusif tidak hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga akses pendidikan, literasi, serta ruang berekspresi yang setara bagi seluruh warga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *