News

Belajar Tak Hanya di Kelas, Siswa SMAN 3 Tasikmalaya Eksplorasi Alam

54
×

Belajar Tak Hanya di Kelas, Siswa SMAN 3 Tasikmalaya Eksplorasi Alam

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Metode belajar di alam terbuka atau outdoor learning diterapkan oleh SMAN 3 Kota Tasikmalaya sebagai upaya menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis 28 Januari 2026 di kawasan Lembur Galuh, Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.

Outdoor learning merupakan pendekatan pendidikan yang memanfaatkan lingkungan alam sebagai ruang kelas utama.

Metode ini dinilai mampu meningkatkan konsentrasi belajar siswa, mengurangi tingkat stres, serta membentuk karakter mandiri dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.

Wakil Kepala Sekolah SMAN 3 Kota Tasikmalaya, Hari Setiadi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai pembelajaran di luar kelas yang melibatkan eksplorasi langsung terhadap alam sekitar.

Berbagai aktivitas dilakukan, mulai dari pengenalan ekosistem, observasi lingkungan, hingga aktivitas fisik yang melatih motorik kasar siswa.

“Siswa tidak sekadar menghafal teori, tetapi berinteraksi langsung dengan lingkungan. Mereka belajar ekosistem dengan mengamati tumbuhan dan hewan secara langsung. Bergerak bebas di alam terbuka membuat anak lebih sehat, kuat, dan bahagia. Metode ini juga terbukti efektif menurunkan tingkat stres,” ujar Hari kepada awak media.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran berbasis pengalaman karena siswa dapat berdialog dan menyerap pengetahuan langsung dari praktisi.

Dalam kesempatan tersebut, siswa berinteraksi dengan H. Cuncun, pengelola Lembur Galuh yang juga merupakan alumni SMAN 3 Kota Tasikmalaya.

“Anak-anak juga ingin menyerap pengalaman langsung dari Pak H. Cuncun sebagai pelaku yang mengelola kawasan berbasis alam, apalagi beliau merupakan alumni SMAN 3,” kata Hari.

Kegiatan outdoor learning ini diikuti oleh siswa kelas XII yang berjumlah 418 orang. Pelaksanaannya dibagi ke dalam tiga kelas secara bergilir selama tiga hari, yakni Selasa, Rabu, dan Kamis. Seluruh kebutuhan kegiatan, termasuk transportasi, difasilitasi oleh H. Cuncun selaku pengelola lokasi.

Sementara itu, sejumlah siswa mengaku mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih menyenangkan melalui metode pembelajaran di luar kelas.

Mereka menilai konsep ini mampu mengembalikan keterhubungan manusia dengan alam serta membuat proses belajar tidak membosankan.

“Belajar di luar sekolah membuat kami lebih paham tentang alam dan lingkungan. Prosesnya tidak hanya mendengar penjelasan, tapi langsung melihat dan merasakan,” ujar salah seorang siswa.

Melalui outdoor learning, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung seperti berkebun, mengenali lingkungan sekitar, hingga memahami pentingnya menjaga ekosistem.

Metode ini dinilai mampu meningkatkan kecerdasan, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Selain itu, aktivitas berbasis petualangan kreatif juga menjadi bagian dari pembelajaran. Melalui permainan dan penjelajahan, siswa diajak memetakan area sekitar, mengenali jenis tanah, serta memahami fungsi rawa dan hutan bagi kehidupan.

Sekolah berharap metode pembelajaran di alam terbuka ini dapat menanamkan nilai cinta lingkungan dan tanggung jawab sosial kepada siswa, sekaligus menjadi pelengkap pembelajaran di dalam kelas.(Rian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *