News

Dampak Konflik Timur Tengah, Pengusaha Plastik Tasikmalaya Tertekan Biaya Produksi

10
×

Dampak Konflik Timur Tengah, Pengusaha Plastik Tasikmalaya Tertekan Biaya Produksi

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Industri plastik di Kota Tasikmalaya mulai merasakan dampak dari memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Harga bahan baku berupa biji plastik dilaporkan melonjak hingga dua kali lipat sehingga memaksa pelaku usaha menyesuaikan produksi.

Kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada aktivitas industri. Sejumlah pengusaha mengaku terpaksa menurunkan volume produksi karena permintaan pasar ikut melemah akibat kenaikan harga produk plastik.

Salah seorang pengusaha plastik di Kota Tasikmalaya, Lungnajaya, mengatakan lonjakan harga bahan baku dipicu oleh gangguan rantai pasok global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan sejumlah negara disebut berdampak pada distribusi energi dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah yang menjadi bahan dasar industri petrokimia, termasuk produksi biji plastik.

“Bahan baku plastik terus naik. Walaupun pemerintah tidak menaikkan harga BBM, tekanan dari situasi global tetap terasa karena rantai pasok minyak dan gas dunia ikut terganggu,” kata Lungnajaya, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, kenaikan harga bahan baku saat ini bahkan mencapai sekitar 100 persen dibandingkan harga normal. Namun pelaku industri tidak dapat sepenuhnya membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen.

Menurutnya, harga jual produk plastik di pasaran hanya bisa dinaikkan sekitar 60 persen agar tetap menjaga daya beli masyarakat. Meski begitu, permintaan pasar tetap mengalami penurunan.

“Permintaan mulai sepi karena harga barang ikut naik. Mau tidak mau kami mengurangi jumlah produksi,” ujarnya.

Selain kenaikan harga bahan baku, pelaku usaha juga menghadapi perubahan sistem transaksi pembelian. Saat ini pembelian biji plastik dari pemasok umumnya harus dilakukan secara tunai, sehingga semakin menambah tekanan terhadap arus kas perusahaan.

Di tengah kondisi tersebut, para pengusaha juga mulai mengkhawatirkan potensi kelangkaan bahan baku apabila konflik geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut. Meski pasokan masih tersedia, proses distribusi dinilai semakin ketat.

Lungnajaya mengatakan pihaknya masih berusaha mempertahankan tenaga kerja meski produksi harus dikurangi. Ia berharap situasi geopolitik dunia segera membaik agar stabilitas harga energi dan bahan baku industri kembali normal.

“Kami berharap konflik di Timur Tengah segera mereda supaya distribusi energi kembali lancar dan harga bahan baku bisa stabil,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *