News

Dari Alam ke Wirausaha, Alumni SMAN 3 Tasikmalaya Ajak Siswa Belajar Siklus Kehidupan

22
×

Dari Alam ke Wirausaha, Alumni SMAN 3 Tasikmalaya Ajak Siswa Belajar Siklus Kehidupan

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Seorang pelaku usaha sekaligus alumni SMAN 3 Tasikmalaya, H. Cuncun, berbagi pengalaman dan inspirasi kepada siswa-siswi SMAN 3 Tasikmalaya dalam kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan, Rabu 29 Januari 2026.

Selama tiga hari berturut-turut, H. Cuncun mendampingi para siswa dalam rangkaian kegiatan belajar di alam terbuka.

H. Cuncun yang dikenal sebagai owner usaha berlabel Lemona menekankan pentingnya mengenal dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar sebagai dasar untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan tanggung jawab sosial.

“Mengenal lingkungan sekitar adalah hal yang tidak boleh dilupakan. Tak kenal maka tak sayang. Lalu, bagaimana anak-anak kita akan mencintai lingkungannya jika mengenalnya saja tidak?” ujar H. Cuncun di hadapan para siswa.

Ia menilai, dinamika kehidupan anak-anak masa kini yang padat dengan aktivitas sekolah, bimbingan belajar, dan berbagai kursus membuat interaksi mereka dengan lingkungan sekitar semakin terbatas. Kondisi tersebut, jika dibiarkan, berpotensi membuat anak-anak kehilangan keterikatan emosional dengan lingkungannya.

“Anak-anak sekarang memiliki aktivitas yang sangat tinggi. Sebagian besar waktu mereka habis di sekolah dan kegiatan tambahan. Jika ini dibiarkan, mereka akan kehilangan chemistry dengan lingkungannya. Lingkungan sekitar hanya akan bermakna secara fisik, bukan secara emosional,” katanya.

Dalam suasana yang akrab dan dialogis, H. Cuncun juga berbagi kisah perjalanan merintis usaha dari nol hingga berkembang seperti saat ini. Di sela sesi tanya jawab, ia memperkenalkan konsep siklus kehidupan yang diaplikasikan melalui sistem pertanian terpadu atau Integrated Farming System.

Menurut dia, konsep tersebut dapat diterapkan melalui perpaduan antara perikanan dan perkebunan, seperti integrasi budidaya tanaman, peternakan, dan kolam ikan atau sistem akuaponik.

“Alam memberikan banyak pelajaran. Seperti pepatah Minang, alam takambang jadi guru. Alam terbentang luas untuk memberikan pembelajaran kehidupan, termasuk bagaimana manusia hidup selaras dengan lingkungannya,” tutur H. Cuncun.

Selama kegiatan pengenalan lingkungan, siswa juga distimulasi dengan berbagai pertanyaan kritis untuk melatih kepekaan dan kepedulian. Mereka diajak mengamati kondisi sekitar, seperti saluran air, potensi banjir saat hujan, hingga peran warga dalam menjaga lingkungan.

“Misalnya, lihat saluran air ini, mengapa bisa seperti ini? Apa yang akan terjadi jika hujan? Kalau kamu jadi ketua RT, apa yang akan kamu lakukan? Apakah di rumah kalian kondisinya sama?” ucapnya, mencontohkan metode pembelajaran yang diterapkan.

Sementara itu, Guru Bahasa Inggris SMAN 3 Tasikmalaya, Dedeh Herlis, menilai pendekatan pembelajaran tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat perkotaan saat ini yang cenderung semakin individualistis.

“Di tengah sikap masyarakat kota yang semakin individualis, kepedulian terhadap lingkungan, baik sosial maupun alam, perlu ditanamkan sejak dini. Metode memetakan wilayah seperti ini membantu anak-anak lebih mengenal lingkungannya dan pada akhirnya menumbuhkan kepedulian,” kata Dedeh.

Ia berharap pembelajaran berbasis lingkungan dan pengalaman langsung tersebut dapat menjadi bekal karakter bagi siswa dalam kehidupan bermasyarakat di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *