TASIK.TV | Longsor kembali terjadi di bantaran Sungai Ciloseh, tepatnya di lokasi pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) RT 003 dan RT 004 RW 007, Kampung Tajur, Kelurahan Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Peristiwa ini terjadi pada Minggu 8 Februari 2026 setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Ini merupakan longsor kedua di lokasi yang sama. Sebelumnya, kejadian serupa tercatat pada 2 Desember 2025 lalu.
Kali ini, longsoran terjadi di bagian belakang rumah milik Agus dan berdampak pada satu unit rumah serta area toilet Pondok Pesantren Al Mujani Tajur.
Tokoh masyarakat setempat, Yuyu, mengatakan hujan dengan intensitas tinggi membuat kondisi tanah di sekitar proyek menjadi labil.
Akibatnya, struktur TPT yang masih dalam tahap pembangunan tidak mampu menahan tekanan tanah dan akhirnya ambruk.
“Hujan deras yang mengguyur lokasi proyek memicu longsor pada TPT yang sedang dibangun di sisi Sungai Ciloseh. Struktur yang belum rampung tidak mampu menahan beban tanah yang labil akibat curah hujan tinggi,” kata Yuyu kepada wartawan, Minggu 8 Februari 2026.
Ia menambahkan, kejadian tersebut membuat aktivitas pembangunan TPT terhenti sementara dan memicu kekhawatiran warga akan potensi longsor susulan.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, ST, menjelaskan bahwa kewenangan penanganan struktural sungai berada di Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy.
“Upaya mitigasi yang dilakukan Pemerintah Kota melalui Dinas PUTR bidang SDA adalah menginformasikan laporan dari masyarakat terkait kejadian longsor dan mengoordinasikannya ke BBWS Citanduy. Untuk tindakan struktural, pemerintah kota tidak memiliki kewenangan karena itu menjadi kewenangan BBWS Citanduy,” ujar Rino melalui pesan WhatsApp.
Rino juga menegaskan bahwa longsor merupakan fenomena alam yang perlu dianalisis secara teknis.
“Longsoran pada lereng terjadi ketika gaya pendorong seperti gravitasi melebihi gaya penahan tanah atau batuan. Pemicu utamanya antara lain curah hujan tinggi, kontur lereng terjal, erosi, hingga aktivitas manusia seperti pemotongan tebing dan alih fungsi lahan,” jelasnya.
Penjelasan tersebut dibenarkan oleh Lurah Panyingkiran, Maman Permana. Ia menyebutkan bahwa pihak kelurahan telah mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi warga terdampak.
“Untuk mengantisipasi adanya korban, pemerintah Kelurahan Panyingkiran langsung merelokasi sementara keluarga terdampak longsor ke Pondok Pesantren Al Mujani Tajur. Longsor ini terjadi di RT 003 RW 007,” ujar Maman.
Menurut Maman, penyebab utama longsor adalah kontur tanah yang labil serta curah hujan tinggi. Ia menambahkan, longsor pertama terjadi sekitar akhir Desember 2025, kemudian disusul longsor susulan di awal Februari 2026.
Pascakejadian, Kelurahan Panyingkiran langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Kecamatan Indihiang, BPBD, Dinas PUTR, Dinas Sosial, BBWS Citanduy, hingga Polres Tasikmalaya Kota dan Kodim setempat.
“Setelah longsor pertama, BBWS Citanduy membangun TPT dan tahap pertama sudah selesai. Untuk longsor susulan ini, BBWS akan melakukan survei lanjutan. Kami juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perwaskim dan Baznas terkait penanganan rumah warga yang terdampak,” pungkasnya.(Ryan)











