TASIK.TV | Pemerintah Kota Tasikmalaya menjadikan pembangunan dan penguatan infrastruktur Balai Benih Ikan (BBI) sebagai salah satu prioritas pada tahun 2026. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan produksi benih unggul dan calon induk unggul yang akan didistribusikan kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan) serta pembudidaya ikan air tawar di Kota Tasikmalaya.
Kepala Bidang Perikanan Kota Tasikmalaya, Jamaludin Agustian, SP, MP, mengatakan pembangunan BBI difokuskan pada penguatan sarana produksi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kuantitas dan kualitas benih ikan.
“Pembangunan infrastruktur BBI yang maksimal akan sangat berpengaruh terhadap maksimalnya produksi benih ikan. Pada 2026 ini, kami memprioritaskan beberapa pembangunan strategis,” ujar Jamaludin saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 27 Januari 2026.
Ia menjelaskan, prioritas pertama adalah pembangunan pintu air masuk dari saluran primer menuju lokasi BBI, termasuk inlet air dan bak pengendalian sebelum air dialirkan ke masing-masing kolam. Infrastruktur ini dinilai krusial untuk menjaga kualitas dan stabilitas debit air.
Prioritas kedua, lanjut Jamaludin, adalah pembangunan kembali atap Hatchery C yang sebelumnya rusak akibat angin puting beliung. Hatchery tersebut merupakan lokasi awal produksi benih ikan, khususnya lele dan gurame.
“Tempat ini menjadi titik awal produksi benih, sehingga perbaikannya menjadi sangat penting agar proses pembenihan bisa berjalan optimal,” katanya.
Selain itu, peningkatan infrastruktur BBI juga mencakup perbaikan kolam, instalasi air, alat pembenihan, serta benteng pengamanan di lingkungan balai. Menurut Jamaludin, terdapat korelasi kuat antara kualitas infrastruktur saluran air dengan peningkatan produksi benih ikan.
“Media utama tumbuh kembang ikan adalah air. Karena itu, debit dan kualitas air sangat berpengaruh terhadap lingkungan pemijahan, pendederan, hingga pembesaran ikan. Dengan peningkatan sarana produksi BBI, kami berharap hasil produksi benih dan calon induk unggul dapat meningkat dan dimanfaatkan oleh pokdakan serta pembudidaya ikan di Kota Tasikmalaya,” ujarnya.
Jamaludin menargetkan BBI Kota Tasikmalaya ke depan dapat berkembang menjadi balai benih ikan yang modern, mampu memfasilitasi produksi benih unggul dan bersertifikat.
“Saya berharap BBI ini menjadi BBI yang modern, mendukung ketahanan pangan, mempercepat distribusi benih, dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan lokal,” katanya.
Ia juga memaparkan dampak positif dari penguatan infrastruktur BBI, antara lain renovasi dan optimalisasi kolam, baik permanen maupun kolam tanah, yang memungkinkan peningkatan signifikan jumlah benih yang dihasilkan. Infrastruktur yang memadai juga memastikan lingkungan pembenihan yang lebih baik sehingga benih yang dihasilkan sehat, seragam, dan bersertifikat.
“Ke depan, kami juga berharap benteng di sekeliling lingkungan BBI dapat diperbaiki. Saat ini masih ada saluran air yang jebol sehingga aliran air tidak sepenuhnya masuk ke kolam. Sarana yang memadai akan memudahkan operasional pembenihan dan meningkatkan produktivitas budidaya perikanan air tawar lokal. Mudah-mudahan seluruh pembenahan pada 2026 bisa berjalan sesuai rencana,” pungkas Jamaludin.
Sebagai informasi, rehabilitasi sarana dan prasarana BBI terakhir kali dilakukan pada 2018. Namun, seiring waktu, sejumlah kolam mengalami kebocoran sehingga pemanfaatannya tidak optimal. Selain itu, berbagai sarana pendukung pembudidayaan ikan juga mengalami kerusakan dan berpotensi menghambat kegiatan produksi benih.











