News

Lewat Program Pesta Telur, Pemkab Tasikmalaya Upayakan Penurunan Stunting

4
×

Lewat Program Pesta Telur, Pemkab Tasikmalaya Upayakan Penurunan Stunting

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya terus mencari cara untuk mempercepat penurunan angka stunting. Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program Pesta Telur yang digagas oleh Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Tasikmalaya.

Program tersebut menjadi salah satu inovasi yang menggabungkan upaya peningkatan gizi keluarga dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pesta Telur merupakan singkatan dari Program Ekonomi dan Stunting Terpadu melalui Budidaya Ayam Petelur.

Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) pada dinas tersebut, Yanti Permayanti, mengatakan penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, baik pemerintah maupun masyarakat.

“Persoalan stunting tidak bisa ditangani oleh satu pihak saja. Pemerintah daerah bersama berbagai pihak terus berupaya memaksimalkan langkah-langkah untuk menurunkan angka stunting,” kata Yanti, Sabtu (7/3).

Ia menjelaskan, program Pesta Telur dirancang untuk membantu keluarga yang memiliki balita stunting maupun ibu hamil agar memperoleh sumber protein yang cukup sekaligus memiliki peluang tambahan pendapatan.

Menurut Yanti, kondisi sosial ekonomi keluarga masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi terjadinya stunting. Oleh karena itu, program ini diharapkan dapat menjawab dua kebutuhan sekaligus, yakni pemenuhan gizi dan penguatan ekonomi rumah tangga.

Dalam pelaksanaannya, setiap keluarga penerima manfaat akan mendapatkan bantuan 15 ekor ayam petelur beserta kandang bertingkat berbentuk paralel vertikal.

Kandang tersebut dirancang sebagai sistem budidaya terpadu yang memadukan peternakan ayam petelur, budidaya maggot, serta kolam ikan dalam satu rangkaian.

Pada bagian paling atas kandang ditempatkan ayam petelur sebagai penghasil telur. Bagian tengah digunakan untuk budidaya maggot atau larva lalat yang berfungsi sebagai sumber pakan alternatif bernutrisi tinggi. Sementara itu, bagian paling bawah dimanfaatkan sebagai kolam ikan.

Menurut Yanti, sistem tersebut dibuat agar ketiga komponen dapat saling mendukung dalam satu ekosistem produksi pangan yang berkelanjutan.

Maggot yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan tambahan bagi ayam maupun ikan. Untuk budidaya maggot, pemerintah daerah juga bekerja sama dengan program MBG setempat dalam penyediaan limbah organik sebagai bahan pakan.

Melalui sistem tersebut, satu kandang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 15 butir telur setiap hari. Telur yang dihasilkan memiliki kandungan gizi yang tinggi karena ayam diberi pakan organik yang diperkaya maggot.

“Telur yang dihasilkan mengandung protein, omega-3, dan DHA. Ini bisa dimanfaatkan oleh keluarga penerima program sebagai sumber gizi,” ujar Yanti.

Sebagian telur yang dihasilkan dapat dikonsumsi oleh keluarga, khususnya bagi ibu hamil dan balita, untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Sementara sebagian lainnya dapat dijual untuk menambah pendapatan keluarga.

Selain memberikan bantuan sarana budidaya, pemerintah daerah juga menyiapkan tenaga pendamping. Mereka bertugas memberikan bimbingan teknis kepada keluarga penerima manfaat, mulai dari pemeliharaan ayam, budidaya maggot, hingga pengelolaan hasil produksi.

Melalui pendekatan tersebut, program Pesta Telur diharapkan tidak hanya meningkatkan asupan gizi keluarga, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat serta mendukung upaya penurunan angka stunting di Kabupaten Tasikmalaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *