News

Ruang Digital Tak Boleh Jadi Kedok Pelecehan, OKP Soroti Kasus Konten Kreator di Tasikmalaya

179
×

Ruang Digital Tak Boleh Jadi Kedok Pelecehan, OKP Soroti Kasus Konten Kreator di Tasikmalaya

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Kasus yang melibatkan seorang konten kreator di Kota Tasikmalaya kembali menyoroti persoalan serius dalam praktik produksi konten digital.

Kreator tersebut diduga menyalahgunakan profesinya dengan memanfaatkan iming-iming hadiah dan uang untuk menarik perempuan agar terlibat dalam pembuatan konten, yang kemudian berujung pada tindakan bermuatan pelecehan.

Modus yang dikemas sebagai hiburan ini dinilai menempatkan perempuan pada posisi rentan. Popularitas dan pengaruh yang dimiliki pelaku diduga digunakan sebagai alat untuk membangun relasi kuasa yang timpang, sehingga melampaui batas etika, profesionalisme, dan kemanusiaan dalam ruang digital.

Ketua Biro Komunikasi dan Informasi (Kominfo) OKP Ruang Dialektika Nusantara, Chanelza Virgantara, menegaskan bahwa profesi konten kreator tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab sosial.

“Konten kreator tidak seharusnya bertindak dengan cara-cara manipulatif yang merugikan orang lain. Profesi ini menuntut tanggung jawab sosial, bukan sekadar mengejar popularitas dan keuntungan,” ujar Chanelza dalam keterangannya, Sabtu 24 Januari 2026.

Menurut Chanelza, praktik semacam ini tidak hanya melukai korban, tetapi juga berdampak luas terhadap ekosistem kreator digital secara keseluruhan.

“Tindakan seperti ini mencederai rasa aman di ruang digital dan secara tidak langsung merusak kepercayaan publik terhadap konten kreator lain yang selama ini berkarya secara etis, edukatif, dan bertanggung jawab,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat, khususnya perempuan dan generasi muda, agar lebih waspada terhadap ajakan pembuatan konten yang disertai iming-iming hadiah atau uang. Chanelza menekankan pentingnya memahami batasan, tujuan, serta konsekuensi sebelum terlibat dalam aktivitas produksi konten digital.

Meski demikian, ia mengingatkan publik untuk tidak melakukan generalisasi terhadap seluruh konten kreator.

“Masyarakat perlu bersikap kritis, tetapi tetap adil. Masih banyak konten kreator yang menjunjung tinggi nilai etika, edukasi, dan kemanusiaan dalam setiap karyanya,” ucapnya.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa ruang digital harus dijaga bersama agar tidak menjadi tempat subur bagi praktik manipulatif dan pelecehan yang berlindung di balik nama kreativitas. Kolaborasi antara masyarakat, komunitas kreator, dan pemangku kepentingan dinilai penting untuk menciptakan ekosistem digital yang aman, beretika, dan berkeadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *