News

Topeng Bebegig Sukamantri, Warisan Budaya yang Terjaga

818
×

Topeng Bebegig Sukamantri, Warisan Budaya yang Terjaga

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Hujan baru saja reda, adzan Isya berkumandang, dan tetabuhan khas Sunda mulai menggema dari beranda desa Sukamantri.

Suara itu memanggil masyarakat untuk keluar dari rumah mereka, menuju sebuah pertunjukan yang istimewa: Tari Topeng Bebegig Sukamantri, yang digagas oleh Agua Mubarok sebagai tugas akhir dari Program Studi Sendratasik UMTAS.

Topeng Bebegig: Tradisi yang Sarat Makna
Topeng Bebegig merupakan kesenian khas Desa Sukamantri, Kabupaten Ciamis. Bebegig, yang awalnya merupakan orang-orangan sawah untuk mengusir hama, kini menjadi bagian penting dari seni pertunjukan dan tradisi Sunda.

Topeng yang menyeramkan dengan rambut ijuk kawung dan mahkota daun waregu ini menyimpan nilai sejarah, budaya, dan spiritualitas.

Menurut legenda, seni ini lahir dari tradisi leluhur yang dimulai oleh Prabu Sampulur, penguasa wilayah ratusan tahun lalu.

Ia menciptakan Bebegig untuk melindungi sumber air desa dari orang-orang yang berniat jahat. Bebegig ini dipercaya memiliki kekuatan magis, membuat orang jahat melihatnya sebagai makhluk menyeramkan yang siap menerkam.

Seni dan Warisan di Panggung Modern
Dalam pertunjukan kali ini, Sanggar Bebegig Baladdewa, yang didirikan oleh seniman lokal Cucu Panji Hermawan, turut ambil bagian.

Sanggar ini telah melestarikan tradisi Bebegig dengan menyajikan helaran, tarian, dan dramatari. Salah satu pertunjukan andalannya adalah kisah penculikan seorang putri oleh Bebegig jahat, yang kemudian diselamatkan oleh Bebegig baik.

Inovasi lain yang diperkenalkan adalah pembuatan topeng Bebegig yang dapat dikenakan langsung oleh penari, seperti dalam Tari Topeng Cirebon. Sentuhan kontemporer ini memberikan pembaruan tanpa menghilangkan esensi tradisional Bebegig Sukamantri.

Penghormatan kepada Leluhur dan Tanah Kelahiran
Melalui karya ini, Agua Mubarok menunjukkan bakti kepada tanah kelahirannya.

“Saya ingin kesenian ini terus hidup, tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi mendatang,” ujar Agua, Selasa 14 Januari 2025.

Kesenian Topeng Bebegig tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga memperkaya budaya lokal. Kehadirannya dalam acara-acara besar, seperti Nyangku Panjalu dan Nyiar Lumar, membuktikan bahwa seni ini tetap relevan dalam kehidupan modern.

Pertunjukan malam itu menjadi bukti bahwa tradisi dan inovasi dapat berpadu, menciptakan harmoni yang tak lekang oleh waktu.

Dengan langkah ini, diharapkan generasi muda semakin mencintai dan menjaga warisan budaya mereka, sebagaimana masyarakat Sukamantri menjaga Topeng Bebegig hingga hari ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *