TASIK.TV | Sebanyak 1.348 calon jemaah haji asal Kota Tasikmalaya dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji 2026. Berdasarkan data per April 2026, keberangkatan dilakukan secara bertahap melalui beberapa kelompok terbang (kloter) hingga Mei 2026.
Di tengah persiapan tersebut, pembekalan ilmu manasik haji menjadi hal krusial yang terus ditekankan kepada para calon jemaah, terutama terkait pelaksanaan wukuf di Arafah yang merupakan rukun haji paling utama.
Kepala Perwakilan Smarts Umroh Tasikmalaya, H. Arif Prianto, mengingatkan pentingnya pemahaman mendalam sebelum melaksanakan wukuf.
“Jangan datang ke Arafah tanpa ilmu. Ini menjadi pengingat bahwa ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah, merupakan puncak spiritualitas yang membutuhkan pemahaman mendalam agar tidak sia-sia,” ujar Arif kepada awak media, Rabu 22 April 2026.
Menurut dia, Arafah bukan sekadar lokasi atau wisata religi, melainkan momen penting bagi jemaah untuk bermunajat, mengakui dosa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Arif menjelaskan, secara syariat, wukuf memiliki ketentuan yang harus dipenuhi. Jika tidak, ibadah haji bisa dinyatakan tidak sah.
“Jika jemaah tidak berada di dalam wilayah Padang Arafah pada waktu yang ditentukan, yakni setelah tergelincir matahari pada 9 Dzulhijjah hingga terbit fajar 10 Dzulhijjah, maka hajinya batal atau tidak sah,” jelasnya.
Ia merinci, beberapa hal mendasar yang wajib dipahami jemaah sebelum melaksanakan wukuf di Arafah antara lain waktu pelaksanaan, lokasi yang sah, serta amalan yang dianjurkan.
Wukuf dimulai sejak waktu zuhur pada 9 Dzulhijjah hingga fajar 10 Dzulhijjah, dengan lokasi wajib berada di dalam batas wilayah Padang Arafah. Selama wukuf, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, talbiyah, serta memohon ampunan.
Selain itu, jemaah juga disarankan untuk berdiam diri, membaca Al Quran, mendengarkan khutbah Arafah, serta melakukan muhasabah diri.
Arif juga mengingatkan adanya larangan saat wukuf, salah satunya meninggalkan Arafah sebelum waktu berakhir.
“Meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam pada 9 Dzulhijjah memang tidak membatalkan haji, tetapi hal itu menyalahi sunnah Rasulullah SAW,” katanya.
Lebih lanjut, Arif menegaskan bahwa wukuf tidak hanya sekadar kehadiran fisik di Padang Arafah, tetapi juga harus diiringi kesiapan batin dan spiritual.
“Tidak cukup hanya berada secara fisik. Jiwa dan hati harus hadir untuk mengakui dosa dan beribadah. Ilmu akan membantu jemaah fokus pada esensi spiritual ini, bukan sekadar pelancongan atau foto-foto,” pungkasnya.
Ia berharap, dengan pembekalan ilmu yang memadai, pelaksanaan wukuf di Arafah dapat menjadi momentum puncak pengampunan dosa bagi para jemaah, bukan sekadar rutinitas tanpa makna.(Ryan)











