TASIK.TV | Kopi, makanan dari rumah, dan kajian keagamaan menjadi cara pegawai Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya memulihkan kembali keakraban yang sempat renggang setelah pandemi Covid-19. Tradisi itu dirawat melalui Coffee Morning Religi atau CMR yang digelar setiap Rabu pagi.
CMR lahir dari kegelisahan sejumlah pegawai setelah pola kerja berubah selama pandemi. Kebiasaan bekerja dari rumah dan berkomunikasi secara daring membuat interaksi langsung berkurang. Ketika pandemi berakhir, kebiasaan tersebut ternyata menyisakan jarak di antara sesama pegawai.
Ketua Pelaksana CMR Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Ari Harri Kusmara, mengatakan kondisi itu mendorong mereka menciptakan ruang sederhana untuk kembali bertemu dan berbincang.
“Pandemi Covid-19 merubah segalanya. Kita biasa bekerja di rumah atau WFH, kemudian bekerja dengan daring, bekerja tanpa komunikasi. Ketika masa pandemi dicabut, ternyata ada kecanggungan saat bekerja,” kata Ari.
Menurut dia, CMR bermula dari pertemuan sederhana. Pegawai berkumpul pada pagi hari, minum kopi bersama, dan berbagi makanan yang dibawa dari rumah. Setelah suasana mencair, pertemuan dilanjutkan dengan kajian keagamaan.
Namun, CMR kemudian berkembang jauh melampaui kegiatan ngopi atau pengajian. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, menambah pengetahuan agama, saling menguatkan, dan mendorong kepedulian sosial.
Dalam tiga tahun perjalanannya, CMR melahirkan sejumlah kegiatan. Di antaranya gerakan membaca Al-Quran selama Ramadan, peringatan hari besar Islam, serta kajian akhlak, fikih, dan tauhid.
Kegiatan sosial juga tumbuh dari forum tersebut. Pegawai secara gotong royong membantu anak yatim, menggalang sedekah kurban, serta berbagai bentuk kepedulian lainnya.
Ari menilai kekuatan CMR justru terletak pada kesederhanaannya. Kegiatan itu tidak dibangun dengan anggaran khusus ataupun struktur organisasi formal. CMR tumbuh dari komitmen dan partisipasi pegawai.
“Perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang perubahan cukup dimulai dari satu kegelisahan, timbul satu gagasan, kemudian ada keberanian untuk mewujudkan,” ujar Ari.
Ia mengatakan CMR menjadi contoh bahwa kebersamaan dapat dibangun dari kebiasaan sederhana. Satu orang mengajak orang lain, lalu berkembang menjadi gerakan bersama.
Bagi Ari, perjalanan CMR selama tiga tahun menunjukkan bahwa ruang untuk saling bertemu dapat melahirkan dampak lebih luas, baik dalam hubungan antarpegawai maupun kepedulian kepada masyarakat.
“CMR kami rangkum hanya dalam dua kalimat: Istikamah menuntut ilmu, mengubah lelah menjadi lillah,” kata Ari.









