TASIK.TV | Prestasi membanggakan terus ditorehkan atlet cilik asal Kota Tasikmalaya, Ratu Aulia Anggraeni. Meski baru mulai menekuni pencak silat pada 2023 saat usianya menginjak empat tahun, Ratu telah menunjukkan bakat dan semangat bertanding yang luar biasa.
Ayah Ratu, Nijar, menceritakan putrinya sebelumnya lebih dulu menggeluti olahraga balap sepeda dan motor. Berbagai kejuaraan pernah diikuti, termasuk di Jakarta, dengan hasil yang membanggakan.
“Ratu sebelum menggeluti pencak silat, dia sudah ikut perlombaan sepeda motor dan sepeda. Alhamdulillah jadi juara satu pada kejuaraan yang diselenggarakan di Jakarta. Semuanya dia tekuni dengan sepenuh hati, sementara kami sebagai orang tua hanya mendukung apa yang menjadi keinginannya,” kata Nijar saat ditemui di kediamannya di Jalan M. Wijaya Praja, Sambong Tengah, Kota Tasikmalaya, Rabu (8/7/2026).
Di balik berbagai prestasi tersebut, perjuangan keluarga tidaklah ringan. Demi mendukung karier olahraga sang putri, Nijar mengaku rela menjual dua unit motor balap miliknya untuk memenuhi kebutuhan latihan dan mengikuti berbagai kejuaraan pencak silat.
Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap atlet berprestasi masih perlu ditingkatkan. Ia berharap seluruh atlet yang mengharumkan nama Kota Tasikmalaya mendapatkan pendataan dan pembinaan yang lebih baik.
“Bukannya saya sebagai orang tua ingin dihargai. Namun akan lebih baik apabila Disporabudpar memiliki database atlet-atlet berprestasi. Jadi kami tidak perlu terus melapor ke KONI, cabang olahraga, maupun Disporabudpar. Harapan saya, mereka mengetahui perkembangan atlet-atlet di Kota Tasikmalaya tanpa kami harus ke sana kemari,” ujarnya.
Senada dengan itu, pelatih Ratu, Ari Kusnandar, menilai pemerintah daerah perlu memberikan perhatian lebih terhadap atlet berprestasi agar tidak berpindah membela daerah lain.
“Penting bagi pemerintah daerah memperhatikan atlet-atlet berprestasi agar tidak dibajak atau dipinjam daerah lain. Langkah ini penting untuk menjaga pembinaan atlet lokal sekaligus menjamin kesejahteraan atlet dan pelatih. Ratu sendiri pernah dipinjam untuk memperkuat Kontingen Kalimantan Timur pada kejuaraan pencak silat tahun 2025,” kata Ari.
Ari menambahkan, perpindahan atlet ke daerah lain kerap terjadi karena minimnya perhatian dan pembinaan. Kondisi tersebut dinilai dapat melemahkan proses pembinaan olahraga di daerah asal jika tidak segera diantisipasi.
“Fenomena perpindahan atlet biasanya terjadi karena mereka merasa kurang mendapatkan perhatian, sementara daerah lain menawarkan pembinaan dan kesejahteraan yang lebih baik. Jika terus dibiarkan, pembinaan atlet di daerah akan sulit berkembang,” pungkasnya.(Ryan)











