TASIK.TV – RSUD Soekardjo Kota Tasikmalaya mencatat peningkatan jumlah pasien dengan gangguan kejiwaan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar pasien yang datang untuk berobat berada pada usia produktif.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Soekardjo, dr. Titie Purwaninsari, mengungkapkan rata-rata pasien gangguan jiwa yang menjalani pemeriksaan di rumah sakit tersebut mencapai sekitar 60 orang setiap harinya.
“Jujur saja, saat ini kami belum memiliki bangsal khusus untuk perawatan pasien gangguan kejiwaan. Dalam dua tahun terakhir, jumlah pasien yang datang rata-rata bisa mencapai 60 orang per hari,” ujar Titie, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, kebutuhan akan fasilitas perawatan khusus bagi pasien gangguan jiwa kini semakin mendesak. Sebab, tidak semua pasien dapat langsung dipulangkan setelah mendapatkan penanganan awal, terutama mereka yang mengalami depresi berat atau gangguan mental akut.
Ia menjelaskan, pasien dengan kondisi tertentu berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang lain apabila tidak mendapatkan pengawasan dan perawatan yang memadai.
“Jika masuk kategori depresi akut, tentu membutuhkan penanganan khusus karena ada risiko membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Karena itu keberadaan bangsal khusus sangat diperlukan,” katanya.
RSUD Soekardjo, lanjut Titie, telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat terkait kebutuhan fasilitas tersebut. Pihak rumah sakit berharap usulan pembangunan bangsal kejiwaan dapat segera mendapat dukungan dan direalisasikan.
Terkait penyebab meningkatnya kasus gangguan mental, Titie menyebut faktor yang melatarbelakangi cukup beragam. Mulai dari tekanan ekonomi, persoalan keluarga, konflik rumah tangga, hingga masalah pribadi yang memicu stres berkepanjangan.
Menurutnya, kemampuan setiap individu dalam menghadapi tekanan hidup berbeda-beda. Karena itu, upaya pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk menekan risiko gangguan kesehatan mental yang lebih serius.
“Screening dan upaya preventif sangat penting. Masyarakat juga perlu mengenali tanda-tandanya sejak awal, misalnya perubahan perilaku yang tidak biasa, sering menyendiri, atau terlihat sedih berkepanjangan,” ujarnya.
Belakangan ini, perhatian terhadap kesehatan mental di Tasikmalaya juga meningkat menyusul sejumlah kasus dugaan bunuh diri yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa di antaranya terjadi di wilayah Mangkubumi, kawasan Jembatan Cirahong Manonjaya, hingga kasus terbaru yang dilaporkan terjadi di Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya.
Titie mengimbau masyarakat untuk tidak ragu mencari bantuan apabila mengalami tekanan psikologis yang berat. Dukungan keluarga, lingkungan sekitar, serta akses terhadap layanan kesehatan mental dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah kondisi yang lebih buruk.











