News

351 Desa di Kabupaten Terancam Kekeringan, BPBD Minta Warga Siaga

5
×

351 Desa di Kabupaten Terancam Kekeringan, BPBD Minta Warga Siaga

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV – Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir mulai memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Menyusutnya debit air sumur membuat ribuan warga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya bersama Perumda Tirta Sukapura menyalurkan sedikitnya 150 ribu liter air bersih untuk 3.500 kepala keluarga (KK) yang terdampak di lima kecamatan, yakni Bojonggambir, Singaparna, Mangunreja, Cipatujah, dan Cineam.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tasikmalaya, Roni AKS, mengatakan distribusi air dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan masyarakat akibat kemarau yang telah berlangsung sekitar tiga bulan.

“Sebanyak 150 ribu liter air bersih kami salurkan kepada sekitar 3.500 kepala keluarga. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan pokok seperti memasak, minum, dan keperluan rumah tangga lainnya,” kata Roni, Senin (13/7).

Untuk mempercepat penyaluran, BPBD bersama Perumda Tirta Sukapura mengoperasikan tiga armada truk tangki. Meski demikian, distribusi air masih menghadapi sejumlah kendala, terutama karena jarak antardesa yang cukup berjauhan.

Roni mengungkapkan BPBD Kabupaten Tasikmalaya saat ini hanya memiliki satu unit mobil tangki air sehingga distribusi dilakukan secara bergantian selama 24 jam agar kebutuhan warga tetap terpenuhi.

Menurutnya, berdasarkan informasi dari BMKG, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibandingkan biasanya. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026 sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan.

Selain krisis air bersih, kemarau juga diperkirakan berdampak pada sektor pertanian. BPBD mencatat sebanyak 351 desa yang tersebar di 39 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan.

“Kondisi ini berisiko menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian mengalami kekeringan hingga gagal panen. Sejumlah saluran irigasi sudah mulai mengering, bahkan debit beberapa sungai juga terus menurun,” pungkas Roni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *