News

Pasanggiri Jaipong Galuh Rahayu #2, Panggung Regenerasi Penari Sunda

55
×

Pasanggiri Jaipong Galuh Rahayu #2, Panggung Regenerasi Penari Sunda

Sebarkan artikel ini

TASIK.TV | Di panggung Gedung Auditorium Universitas Galuh, Ciamis, akhir pekan lalu, derap kendang memandu gerak yang tegas sekaligus luwes. Para penari Jaipong bergantian tampil, menampilkan geol dan gitek yang rancak, diselingi sentuhan teknik pencak silat. Ekspresi mereka tajam namun hangat—memancarkan karakter perempuan Sunda yang ceria, mandiri, dan berani.

Selama tiga hari, 24–26 April 2026, Pasanggiri Jaipong Galuh Rahayu #2 menjadi ruang adu kreativitas sekaligus ajang silaturahmi lintas generasi. Peserta datang dari berbagai jenjang, mulai tingkat taman kanak-kanak hingga kategori umum. Setiap kelompok tampil sesuai kategori, memamerkan kelincahan gerak, kekompakan dengan irama kendang, serta keberanian berimprovisasi di atas panggung.

Ketua pelaksana, Kang Osah Naris, mengatakan kompetisi ini tak semata mengejar piala. “Ajang ini menjadi ruang berproses dan memotivasi generasi muda untuk berprestasi, tanpa meninggalkan akar budaya,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut dia, keunikan pasanggiri ini terletak pada penekanan terhadap energi, kelincahan, dan ekspresi penari dalam merepresentasikan semangat perempuan Sunda. Jaipong, kata Osah, bukan hanya tontonan, melainkan medium pembentukan karakter.

Pada penutupan, 26 April, Rektor Universitas Galuh Prof. Dr. Dadi, M.Si. hadir menyerahkan piagam penghargaan kepada para juara. Kehadiran pimpinan kampus itu menegaskan dukungan institusi pendidikan terhadap pelestarian seni tradisi.

Osah menambahkan, pasanggiri menjadi sarana penting memperkuat identitas budaya di tengah arus globalisasi. Ia mendorong generasi muda memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan Jaipong sebagai bagian dari ekspresi kreatif yang membanggakan.

“Jaipong mengajarkan keberanian, disiplin, dan gotong royong. Nilai-nilai itu yang ingin terus kami hidupkan,” kata dia.

Bagi para peserta, panggung pasanggiri bukan sekadar arena lomba. Ia menjadi ruang belajar—tempat tradisi dirawat, dan masa depan budaya Sunda dipertaruhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *